Legacy Sosial Publikasi Amal di Medsos Dapat Menghilangkan Pahala Puasa, Menyuburkan Sifat Riya, Munafik dan Fasik

Taklim Ramadan Hari Ke-24

Oleh: Amri Zakar Mangkuto Malin, SH, M.Kn

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الحَمْدَ لِله، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُه، ونَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أنْ لَا إلهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى هَذا النَّبِيِّ الكَرِيمِ، وَعَلَى آلِهِ وَأصْحَابِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ.
. اما بعـد

Selamat menjalankan Ibadah puasa ramadan kepada orang beriman yang akan dijanjikan peringkat tertinggi dalam iman yaitu “ INSAN MUTTAQIN”.

Selama ramadan 1446 H ini, kajian kita akan berlangsung selama ramadan melalui “Jendela Ramadhan Taklim Top Sumbar”.

Marilah kita meningkatkan kualitas ibadah wajib dan Sunnat selama ramadan karena bagian dari bentuk syukur kepada Allah dan rasulNya, agar pada akhir ramadan nant kita meraih titel MUTTAQIN dan tidak lupa berselawat kepada Nabi kita tercinta MUHAMMAD SAW dengan ucapan “Allahuma shalli alaa Muhammadin wa ala ali a Muhammad”.

Para hadirin pembaca Top Sumbar dimanapun berada.

Pada era digital ini kehidupan manusia seakan hidup  di dua alam, Pertama ALAM NYATA di dunia dan Kedua ALAM MAYA yaitu kehidupan di media sosial ( MEDSOS).Sehingga seseorang sangat kuatir jika TIDAK BERMEDSOS, seakan tidak ada legacy yang ditinggalkan, karena pepatah mengatakan ”Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan nama.

Kehidupan MEDSOS adalah kehidupan orang banyak era saat ini, jika terbawa arus dalam publikasi ibadah dikuatirkan tumbuhkembang ibadah hanya lewat medsos sedangkan di dunia nyata sedikit yang beribadah, sebagaimana Allah melalui firmannya pada Surah Al-An’am ayat 116 (QS 6:116) berbunyi: “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah yang mereka ikuti hanyalah persangkaan belaka, dan mereka hanyalah membuat kebohongan”.

Sehingga Legacy Sosial publikasi amal di medsos akan meninggalkan perilaku munafik sebagai dampak dari ibadah karena ingin mengakuan orang banyak. Dan terlebih akan menghilangkan pahala ibadah yang disebut-sebut sepanjang medsos ada.

Kecuali legacy sosial selain amal ibadah, seperti pembelajaran dan ilmu tentang amar makruf nahi mungkar, leagacy demikian dapat menjadi warisan bagi generasi mendatang.

Bahkan Pimpinan pusat Muhammadiyah tegas berpesan dalam https://muhammadiyah.or.id dengan judul tulisan: ”Demi Mewariskan Legacy, Para Pimpinan Jangan Menggantang Asap Sampai Berhutang Sana Sini” dengan menjadikan kebaikan orang lain sebagai bahan publikasi.

Ibadah ada yang dilakukan bersama-sama dengan orang lain, seperti salat, sedekah dan dakwah itu dilakukan dihadapan orang banyak dan ditanpakkan, hal ini tidak termasuk publikasi, sebagaimana firman Allah SWT: “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu LEBIH BAIK BAGIMU. …….” (QS.Al-Baqarah : 271).

Maka sikap Publikasi Ibadah di Medsos tidak termasuk kebolehan menampakkan sedekah, tetapi termasuk kepada RIYA dengan tiga kategori yaitu :

Pertama  berbuat riya yang cenderung menjadi syirik khafi (tersembunyi) karena menyekutukan Allah dalam ibadah, yaitu ibadah karena ingin dipuji manusia dan publikasi di medsos, sehingga akan terjadi MENYEBUT-NYEBUT KEBAIKAN berulang kali di Medsos, awalnya ikhas lama-lama akan muncul riya karena pujian netizen bukan karena ingin dipuji Allah SWT (surat Almaun ayat 5-6 yaitu orang yang lalai dalam salat dan riya).

Kedua akan muncul sifat Munafik yaitu : ”Apabila berdiri untuk salat, mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya di hadapan manusia… (Surah An-Nisa ayat 142). Artinya ibadah yang diperuntukkan untuk dipublikasikan di medsos cenderung dilakukan oleh perilaku munafik, yang sedikit menyebut nama Allah dan beribadah hanya karena ingin dipuji manusia.

Ketiga melahirkan sifat FASIK yaitu BANYAK BICARA DAN BANYAK MENULIS BAHKAN BANYAK SHARE DAN KOMEN DI MEDSOS tetapi tidak melakukan praktik ibadahnya, Sebagaimana pada surat Al-An’am Ayat 49 yang artinya: “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami akan ditimpa azab karena mereka selalu berbuat fasik (menyebarkan dosa).

Pada ayat lain : ”Wahai orang-orang beriman! Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? (QS. As-Saff ayat 2-3).

Sampai bermedsos LUPA DIRI, maka Allah akan melupakannya: “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (Surat Al-Hasyr Ayat 19).

IBADAH RAMADAN MENJADI SIA-SIA KARENA TIDAK DAPAT MENAHAN DIRI DARI PERBUATAN SIA-SIA SEPERTI PUBLIKASI AMAL SHOLEH

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “‘Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum saja, puasa adalah menahan diri dari perkataan sia-sia dan keji.’ (HR Baihaqi dan Al-Hakim).

Dan Allah TIDAK BUTUH IBADAH ORANG YANG MELAKUKAN PERBUATAN SIA-SIA, sebagaimana hadist: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari).

Sehingga ingatlah hadist: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. At Tabrani).

PERBUATAN SIA-SIA YANG MENJADIKAN AMAL SIA-SIA

Pertama : MELIHAT SESUATU YANG MENIMBULKAN SYAHWAT TERHADAP WANITA DALAM KEHIDUPAN NYATA MAUPUN PENAMPAKAN DI MEDIA SOSIAL

Sebagaimana hadist : “Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan sia-sia dan mesum. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.”(HR. Ibnu Majah dan Hakim.).

Maka video yang menampilkan gambar dan pamer bentuk wajah dan tubuh wanita cenderung MERUSAK PUASA ORANG LAIN.

Kedua : BERDUSTA DALAM KATA-KATA DAN PERBUATAN

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari ).

Dan : ”Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari).

Ketiga : PUBLIKASI AMAL DI MEDSOS MELAHIRKAN KOMENTAR SUKA DAN TAK SUKA YANG SIA-SIA DALAM MENJAGA IBADAH.

Perkataan di medsos seperti komentar dan pujian bahkan ada rasa iri dan dengki atas suatu publikasi melahirkan perbuatan sia-sia yang cenderung berisikan RASA SENANG DIPUJI, RASA SAKIT HATI KETIKA ADA YANG TAK SUKA, USIL DENGAN KOMEN TAK BAIK, maka hendaklah BERPUASA DARI PUBLIKASI MEDSOS agar selamat dari perbuatan sia-sia.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim).

Keempat : PUBLIKASI SALAT DAPAT MENJADIKAN IBADAH SIA-SIA KARENA PERBUATAN MENJADIKAN DIRI MUNAFIK

Sebagaimana firman Allah SWT: ”Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah membalas tipuan mereka (dengan membiarkan mereka larut dalam kesesatan dan penipuan mereka). Apabila berdiri untuk salat, mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya di hadapan manusia. Mereka pun tidak mengingat Allah, kecuali sedikit sekali. (Surah An-Nisa ayat 142).

Dan hadist dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bisa jadi seseorang yang berpuasa tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar, dan bisa jadi seseorang yang salat malam tidak mendapatkan dari salatnya kecuali begadang.” (HR. Ibnu Majah).

Kelima : PUBLIKASI IBADAH TIDAK MENJADIKAN MATA, TELINGA DAN PIKIRANNYA BERPUASA

Bahwa dalam publikasi amal di medsos, maka MATA AKAN MELIHAT, TELINGA AKAN MENDENGAR, DAN PIKIRAN AKAN MELANGLANG BUANA KARENA KOMEN DAN TANGGAPAN NETIZEN MEDOS, maka ingatlah : “Jika kamu berpuasa, maka hendaklah pendengaranmu, penglihatanmu, dan lisanmu juga berpuasa dari dusta dan dosa. Janganlah menyakiti tetangga, dan hendaknya kamu tetap dalam keadaan tenang dan wibawa pada hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu seperti hari biasa.” (HR. Al-Baihaqi).

Keenam : TIDAK SALAT KARENA KESIBUKAN PUBLIKASI DI MEDOS

Bahwa manusia sudah ada perjanjian dengan Allah tentang ibadah salat, tetapi karena keasikan medsos lupa salat, maka ingatlah : “Perjanjian antara kami dengan mereka adalah salat. Barang siapa yang meninggalkannya, maka ia telah kafir.” (HR. At-Tirmidzi).

Ketujuh : HABIS PAHALA AMAL DITIMPAKAN KEBURUKAN PENDUDUK MEDSOS KARENA KEBURUKAN AKIBAT PUBLIKASI MEDOS

Rasulullah SAW menjelaskan tentang orang yang muflis. “Tahukah kalian siapa muflis (orang yang bangkrut) itu?” Para sahabat menjawab, ”Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai uang maupun harta benda.” Kemudian Nabi SAW menjelaskan, “Muflis (orang yang bangkrut) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) salat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah MENCACI DAN (SALAH) MENUDUH ORANG LAIN, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka” (H.R. Muslim dan Ahmad).

Kedelapan : PUBLIKASI IBADAH DI MEDOS MENJADI MEDSOS SEBAGAI SEKUTU DALAM AMAL SHOLEH

Ketika publikasi amal sholeh maka seseorang akan mendapatkan pujian medsos dan sanjungan medsos, maka Allah tidak butuh atas amal sholeh yang demikian, sebagaimana hadist : “Aku paling tidak butuh pada sekutu-sekutu, barangsiapa yang beramal sebuah amal kemudian dia menyekutukan-Ku didalamnya maka Aku tinggalkan dia dan syiriknya” (HR. Muslim).

Kesembilan : SALAT DAN IBADAH KARENA INGIN DILIHAT MANUSIA MELAHIRKAN SIFAT MUNAFIK

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allâh, dan Allâh akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allâh Azza wa Jallaecuali sedikit sekali [An-Nisȃ’/4:142]

Sepuluh : MENYEBUT-NYEBUT DENGAN  SHARE BERKALI KALI AMAL SHOLEH SESEORANG AKAN MENGHABISKAN KEBAIKANNYA

Sebagaimana alquran : ”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (Q.S. Al-Baqarah: 264).

Maka dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa Legacy sosial publikasi ibadah di medsos lebih banyak mudarat dibandingkan manfaat, mudaratnya dilarang Allah karena dapat menghabiskan pahala dan menyuburkan sifat riya yang menjadikan pelakunya bersifat munafik dan fasik (hanya berteori dalam ibadah, tidak mengamalkan). Karena pahala kebaikan seseorang akan hilang seiring ibadah baiknya viral dan share berkali-kali.

Maka ketika berpuasa, menahan diri dari legacy sosial publikasi amal adalah bagian dari MENAHAN DIRI yang harus dilatih selama Ramadan agar puasa tidak sia-sia karena amalan sia-sia di medsos, seharusnya puasa dapat melatih MENAHAN DIRI dari keinginan publikasi amal sholeh di medsos, sehingga terbentuk SIFAT SABAR karena sabar lebih baik: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dibalas dengan pahala tanpa batas.” (QS. Az Zumar [39] : 10).

Karena bulan Ramadan juga dinamakan dengan bulan sabar.:“Puasa adalah setengah dari kesabaran.” (HR. Tirmidzi).

Sukabumi, Senin, 24 Maret 2025)

Penulis berprofesi sebagai Notaris dan PPAT serta dosen dan pendakwah

Pos terkait