Hari Ini 17 Februari 2025, Rupiah Menguat Hingga Rp16.260 terhadap Dolar AS

Hari Ini 17 Februari 2025, Rupiah Menguat Hingga Rp16.260 terhadap Dolar AS
Hari Ini 17 Februari 2025, Rupiah Menguat Hingga Rp16.260 terhadap Dolar AS (Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay).

TOPSUMBAR – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan mengalami pergerakan fluktuatif, namun berpeluang menguat di kisaran Rp16.200-16.260 pada awal perdagangan Senin (17/2/2025).

Pada penutupan pekan lalu, Jumat (14/2/2025), rupiah tercatat menguat 109 poin atau 0,67% ke level Rp16.252 per dolar AS.

Penguatan ini sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS yang turun 0,30 poin atau 0,35% ke level 107,017.

Bacaan Lainnya

Melansir bisnis.com, Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai rupiah masih memiliki ruang untuk menguat lebih lanjut seiring dengan berbagai sentimen yang berkembang.

“Rupiah berpotensi kembali menguat ke level Rp16.200 hingga Rp16.260 per dolar AS. Faktor eksternal dan domestik turut berperan dalam pergerakan ini,” ujarnya dikutip pada Senin (17/2/2025).

Dari sisi global, ekspektasi bahwa kebijakan tarif perdagangan yang direncanakan Presiden AS Donald Trump tidak akan diberlakukan hingga April 2025 menjadi salah satu faktor pendorong.

Ibrahim menilai kebijakan tersebut memberi waktu bagi pasar global untuk beradaptasi dan menghindari eskalasi perang dagang.

Selain itu, optimisme terhadap potensi perdamaian antara Rusia dan Ukraina turut memberikan dampak positif bagi kondisi ekonomi global.

“Jika kesepakatan damai bisa tercapai, fundamental ekonomi akan lebih stabil, termasuk di negara-negara Eropa,” tambahnya.

Bahkan, indikasi pemulihan ekonomi di Eropa juga terlihat dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Inggris yang meningkat 0,1% pada kuartal IV/2024.

Dari dalam negeri, kunjungan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan ke Indonesia memberikan angin segar bagi sektor infrastruktur, khususnya terkait pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Namun, Kepala Ekonom PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS), Banjaran Surya Indrastomo, memperkirakan bahwa rupiah masih akan mengalami tekanan dalam jangka pendek.

“Pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama penguatan dolar AS akibat kebijakan proteksionis Trump,” katanya.

Meskipun demikian, Banjaran menegaskan bahwa Bank Indonesia (BI) memiliki berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

“BI dapat melakukan intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar surat berharga guna memastikan cadangan devisa tetap kuat,” jelasnya.

Selain itu, penanaman modal asing yang tumbuh hingga 33,3% pada kuartal IV/2024 menjadi indikator positif bagi ekonomi domestik ke depan.

Sementara itu, melansir kontan.co.id, hingga pukul 09.00 WIB, mayoritas mata uang Asia menunjukkan penguatan terhadap dolar AS.

Yen Jepang naik 0,25%, diikuti ringgit Malaysia yang menguat 0,22%, serta baht Thailand yang terapresiasi 0,11%.

Yuan China tercatat naik 0,1%, sementara dolar Taiwan dan dolar Singapura masing-masing menguat 0,06%. Adapun dolar Hongkong dan won Korea Selatan naik tipis masing-masing 0,04% dan 0,01%.

Di sisi lain, peso Filipina menjadi satu-satunya mata uang Asia yang mengalami pelemahan, turun 0,03% terhadap dolar AS dalam perdagangan pagi ini.

(HR)

Dapatkan update berita terbaru dari  Topsumbar. Mari bergabung di Facebook  Topsumbar News Update, caranya klik link https://facebook.com/updatetopmedia kemudian ikuti. Anda harus instal aplikasi Facebook terlebih dulu di ponsel

Pos terkait